
Kuingat semuanya…..
Belum lama aku memilihmu sebagai kepercayaanku, kujadikan engkau sebagai tempat sandaranku kuberikan segalanya untukmu dan aku serahkan apa yang ada padaku kepadamu hanya kepadamu. Awalnya, aku pun terima perlakuan baikmu aku terima segala keputusanmu. Bahkan akulah orang yang membantumu menyiarkan keseluruh masyarakat agar memilih dan berpihak padamu. Akulah yang menjadi pelopor terbaikmu dan aku jugalah yang selalu berada dibelakangmu ketika kau membutuhkanku. Aku telah meyakinkan diriku sendiri bahwa engklaulah pilihanku yang tepat.
Namun dengan selang waktu yang tak lama mudah sekali kau lupakan aku, tanpa permisi tanpa izin padaku dulu. Bahkan tanpa ada diskusi terlebih dahulu padaku. Kepercayaaku kini perlahan luntur dengan janji-janjimu yang kosong dengan ucapanmu yang tak memiliki hati nurani bahkan hina layaknya orang yang memusuhiku. Kau jadikan aku boneka yang bisa kau permainkan hingga kau jadikan pula aku robot agar bisa engkau perintah kapanpun kau mau. Kau campakkan aku sepertinya engkau hina berada dekatku. Kau habisi semua darah dan keringatku hingga tak tersisa kecuali tulang dan kulit. Kau sama sekali tak mengingat bagaimana kau bisa ada disinggasana itu, kau bahkan melupakan segala yang kami korbankan hanya untukmu. Sungguh kau bagaikan kacang yang lupa dengan kulitnya.
Ingatlah…. Ingatlah wahai kaum muslimin….
Mereka tak layak lagi kau jadikan sandaranmu untuk membantumu apalagi menggantungkan padanya hidup dan matimu. Lihatlah dengan kebodohan mereka, mereka lakukan perbuatan yang hina dan dibenci Allah Swt padahal mereka mengaku muslim mereka mengakui keberadaan Allah Swt tapi tak, pengatur mereka mengakui Alquran tapi tak dijadikan pedoman hidup. Padahal meraka adalah umat Rasul Saw yang Allah Swt janjikan surga bagi orang-orang yang beriman. Mereka bukanlah orang yang buta akan kebenaran ilmu Allah Swt, mereka bukanlah orang tuli akan seruan Allah Swt, mereka bukanlah orang yang lumpuh akan janji Allah Swt.
Mereka orang yang berakal tapi mereka tak sadar akan hal itu, bahkan mereka lebih memilih menjadi orang yang tak berakal layaknya binatang. Mereka orang yang berilmu tapi tak mau peduli akan hal itu, mereka lebih memilih untuk menjadi budak para kapitalis dan sosialis yakni mereka merupakan budak orang-orang kafir.
Wahai kaum muslimin…..
Sadarlah dari engkau dari khayalanmu, bangunlah engkau dari tidurmu yang panjang, kau bukanlah budak para kapitalis dan sosialis, kau bukanlah budak orang-orang kafir. Kau adalah umat terbaik yang Allah Swt ciptakan dimuka bumi ini. Kau adalah kaum mukmin dan mukminat yang kuat yang apabila engkau beriman serta bersatu engaku tidak akan terkalahkan. Seperti dalam firmanNya:
141. (yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: "Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu ?" dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: "Bukankah kami turut memenangkanmu[363], dan membela kamu dari orang-orang mukmin?" Maka Allah akan memberi Keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.
[363] yaitu dengan jalan membukakan rahasia-rahasia orang mukmin dan menyampaikan hal ihwal mereka kepada orang-orang kafir atau kalau mereka berperang di pihak orang mukmin mereka berperang dengan tidak sepenuh hati.
Tidakkah kalian bersegera memohon ampunan-Nya.
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(TQS. Al-A’raf: 96).
Untuk penguasa- penguasa negeri ini yang tidak pernah kehabisan cara untuk membuat rakyatnya menderita juga untuk umat yang haus akan sebuah perubahan untuk kembali pada Syari’at-Nya.
Wallahu a’lam bi ash-shawab…..
Mela & Rindy..
Papan peringatan dan petunjuk “Awas HIV-AIDS, Hindari Hubungan Seksual Berisiko” terlihat di sudut-sudut kota tambang emas di Timika, Kabupaten Mimika, Papua. Demam emas di Papua dan penyebaran HIV/AIDS berjalan seiring di Kabupaten Mimika yang berpenduduk 225.000 jiwa itu.
Saat Kompas melintas awal November selepas petang, kehidupan malam terlihat semarak di Timika. “Sekarang-sekarang ini tanggal muda. Banyak pekerja yang buang uang di tempat hiburan di kota ataupun Kilo 10 (lokalisasi di Kilometer 10). HIV dan kemiskinan tumbuh subur di sini,” ujar Husin, seorang warga Timika.
Ketika melintas di Kampung Kwamki Lama dan Kwamki Baru, terlihat penduduk asli duduk-duduk saja di pelataran rumah. Tidak banyak warga asli terlibat dalam perniagaan dan layanan jasa yang menjadi urat nadi Kota Timika. “Sering terjadi keributan antarsuku di sini,” ujar Alfian yang lama bermukim di Timika.
Timika dan Tembagapura adalah potret buram hubungan Indonesia-Amerika Serikat. Kekayaan bumi Indonesia diangkut keluar, sedangkan masyarakat sekitar hidup miskin dan didera bahaya HIV/AIDS.
Setiap hari dari tambang emas, perak, dan tembaga milik PT Freeport Indonesia dihasilkan sekitar 300 kilogram emas dan 600 kilogram mineral berharga perak serta tembaga dari 238.000 ton batuan yang dikeruk dari lokasi tambang Grassberg di ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut dekat Cartenz Piramid.
“Dulu sewaktu zaman Belanda dan pertambangan belum buka di Timika, situasi tidak seburuk sekarang. Anak muda Papua sudah banyak yang mulai bekerja di instalasi minyak di Sorong,” ujar seorang warga Papua bermarga Kambu.
Konflik dan benturan antara warga dan industri pertambangan menjadi pemandangan keseharian di Timika-Tembagapura.
Amerika merajalela
Hubungan Indonesia-AS yang manis berubah menjadi pahit di Papua. Freeport Indonesia dan pelbagai perusahaan pertambangan AS yang beroperasi di Indonesia adalah buah simalakama dari rezim Orde Baru setelah Belanda hengkang dari bumi Papua.
Tekanan diplomasi AS kepada Belanda berbuah Papua kembali ke dalam wilayah Indonesia. Tetapi, konsesi politik dan ekonomi, terutama pada masa Orde Baru, diberikan secara bebas kepada AS.
Padahal, tidak hanya AS, Uni Soviet pun turut dalam proses perebutan Papua. Laksamana Pertama (Purn) RP Poernomo yang dihubungi mengatakan, Uni Soviet menjual 12 kapal selam kepada Indonesia untuk operasi merebut Irian Barat.
Selain Uni Soviet, Republik Rakyat China ketika itu juga aktif membantu Indonesia secara langsung dalam pelbagai proyek dan forum internasional.
Alih-alih mendapat balas jasa, rezeki terbesar ditangguk AS melalui konsesi pertambangan di Tembagapura. Kokohnya cengkeraman AS semakin kuat setelah Orde Baru berkuasa.
Indonesian Human Rights Committee for Social Justice (IHCS) dalam surat elektronik kepada Kompas menjelaskan, Freeport saat ini beroperasi di Indonesia berdasarkan kontrak karya (KK) perpanjangan tahun 1991, di mana royalti emas Freeport yang harus dibayarkan kepada Pemerintah Indonesia sebesar 1 persen. Padahal, setiap hari dihasilkan 300 kg emas.
Namun, menurut Sekjen IHCS Gunawan, kini royalti pertambangan diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku Pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, royalti emas ditetapkan sebesar 3,75 persen dari harga jual kali tonase. Tetapi, anehnya, untuk Freeport, hanya dikenakan sebesar 1 persen dari harga jual kali tonase, padahal 3 persen sangat rendah dibandingkan di negara-negara Afrika.
Ketua rombongan kunjungan kerja Komisi VII DPR Effendy Simbolon mengatakan, royalti yang dibayarkan kepada Pemerintah Indonesia sangatlah kecil. “Kita harus perjuangkan soal bagi hasil dan alokasi dana tersebut untuk masyarakat,” ujar Simbolon.
Tanam paksa lebih baik
Bagi hasil industri pertambangan ala AS sungguh merugikan Indonesia. Tanam paksa yang dilakukan rezim penjajahan Hindia Belanda pada abad ke-19 masih menyisihkan 20 persen hasil panen untuk petani miskin di Jawa. Dalam buku Ekspedisi Jalan Raya Pos terbitan Penerbit Buku Kompas disebutkan, 60 persen hasil petani diambil oleh birokrasi lokal. Hanya 20 persen yang dikirim ke negeri Belanda. Meski tidak manusiawi, porsi yang diberikan penjajah Belanda masih lebih baik dibandingkan hasil yang diberikan AS kepada Indonesia.
Sebelum kontrak karya yang kini berlaku, lebih kurang 25 tahun, Freeport hanya membayar royalti tembaga ke pemerintah. Sejak masuk ke tanah Papua berdasarkan kontrak karya generasi pertama (KK I) tahun 1967, Freeport hanya melaporkan pihaknya menambang tembaga. Padahal, pada tahun 1978, terbukti selain mengekspor tembaga, Freeport juga mengekspor emas.
Atas dasar itu IHCS mendesak, kontrak karya II antara Pemerintah Indonesia dan Freeport harus dibatalkan. Menyikapi situasi tersebut, IHCS akan mengajukan pembatalan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan menggugat PTFI, Pemerintah RI, dan DPR.
Kondisi serupa terlihat di pertambangan minyak dan gas AS di Kepulauan Riau, Kalimantan, dan Sumatera.
Meski diplomasi pencitraan Presiden Barack Obama memikat hati, sudut-sudut kota Timika berbicara lain. Itulah potret buram hubungan RI-AS yang pincang. (Kompas, 11/11)
1500 Ulama Nasional Tolak Kedatangan Obama Presiden Negara Penjajah


Syabab.Com - Sekitar 1500 ulama dari berbagai nusantara berkumpul di kota pahlawan, Surabaya, dalam acara Majlis al-Buhuts al-Islamiyyah Ulama Nasional, menyerukan penolakkan atas Barack Obama Presiden Negara Penjajah, Sabtu, 06/11/2010. Mereka juga menuntut penguasa agar membatalkan kemitraan komprehensif AS-Indonesia yang merupakan bentuk penjajahan bukan kemitraan.
Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia, KH. Muhammad Ihsan Abdul Jalil, sebagai pihak penggagas acara tersebut di dalam sambutannya, mengatakan kemitraan komprehensif AS-Indonesia tidak menguntungkan bagi Indonesia, ini hanya untuk kepentingan AS.
Sementara itu di dalam kajian utamanya, Junaidi ath-Thoyibi dan Syamsudin Ramadhan dari DPP HTI, masing-masing menyampaikan analisi politik dan tinjauan syariat Islam tekait kedatangan Obama. Haram negeri kaum Muslim bekerjasa dengan penjajah.
Beberapa perwakilan ulama dari berbagai daerah memberikan ketegasan sikap mereka dan umat untuk menolak Obama presiden negara penjajah.
Mereka menegaskan kembali dukungan atas penegakkan Khilafah yang akan menuntaskan segala bentuk penjajahan atas negeri Muslim, termasuk Indonesia.
"Kalau ulama mengatakan Khilafah itu tidak ada dalam Islam, berhenti jadi ulama," kata seorang ulama dari Banten.
Pernyataan sikap penolakan atas kedatangan presiden Barack Obama untuk kemitraan komprehensif AS-Indonesia tertuang dalam Taushiyyah Siyasiyyah Ulama yang disampaikan Abah Hideung.
Kemudian secara simbolik dibubuhkan tanda tangan bersama oleh 12 Ulama dari berbagai propinsi di Indonesia mewakili ribuan ulama yang telah menandatangani taushiyah siyasiyyah ini.
Terkait korban merapi, tak lupa para ulama juga berdoa sekaligus menggalang bantuan untuk mereka yang terkena musibah. [m/mu/f/syabab.com]

Sekitar 15 ribu massa Hizbut Tahrir Indonesia melakukan aksi di depan Istana Negara Jakarta, Ahad (7/11), menolak kedatangan Obama Presiden Negara Penjajah, sekaligus juga menggalang dana untuk korban bencana. Peserta aksi berjalan mulai dari Istana Negara hingga ke depan Kedubes AS, simbol negara penjajah dunia. Sepanjang jalan, mereka meneriakkan yel-yel ‘Tolak, tolak, tolak Obama, tolak Obama sekarang juga’.
Di dalam penjelasn resminya, Hizbut Tahrir Indonesia menegaskan bahwa tidak ada bedanya antara Obama dan Bush Jr. dalam memimpin Amerika sebagai negara penjajah yang menyebarkan penjajahannya di sebagian besar belahan dunia.
Amerika merupakan negara yang rusak dan merusak negeri dan penduduknya. Negara inilah yang berada di belakang berbagai krisis dan kekacauan di seluruh penjuru dunia.
Permusuhannya terhadap Islam dan kaum muslim sudah sangat nyata. Secara riil, sekarang Amerika sedang berperang dengan Islam dan kaum Muslim.
"Karena itu, apa yang disebut Kemitraan Komprehensif (Comprehensive Partnership) betapapun telah dibungkus dengan istilah-istilah yang bagus, akan tetapi faktanya adalah racun yang mematikan khususnya bagi kaum Muslim, karena pada hakikatnya merupakan penjajahan komprehensif (menyeluruh) terhadap seluruh aspek kehidupan," tegas Hizbut Tahrir Indonesia di dalam leaflet terbarunya.
Waspadai Bencana Obama, Sekaligus Galang Dana untuk Korban Bencana
Panitia menjelaskan acara ini merupakan wujud kepedulian dan solidaritas terhadap sesama Muslim di seluruh dunia. Acara ini juga wujud solidaritas terhadap penderitaan yang dialami saudara-saudara yang tertimpa bencana di Tanah Air. Karenanya, selain aksi menolak Obama, aksi ini juga dimaksudkan untuk menggalang dana bagi para korban bencana.
Jubir HTI Ismail Yusanto dalam orasi pembukaannyamengatakan, aksi ini merupakan salah satu kewajiban amar makruf nahi munkar. "Ini keprihatinan terhadap negeri ini sekaligus wujud kecintaan kita terhadap negeri ini," katanya.
Bencana, menurutnya, harus jadi perhatian. Tapi lebih dari itu kaum Muslimin tidak boleh lupa terhadap bencana yang lebih besar yakni kokohnya imperialisme di Indonesia.Ia mengajak peserta beramal dengan menyumbangkan dana bagi korban bencana di Merapi dan Mentawai. Kantong-kantong pun diedarkan. Sampai akhir acara lebih dari 62 juta dana sudah terkumpul untuk korban bencana.
Aksi tolak Obama dan penggalangan bantuan dana ini dilakukan Hizbut Tahrir di berbagai kota di seluruh Indonesia. Di samping itu Hizbut Tahrir juga telah mengirim gugus tugas relawan Hizbut Tahrir Tanggap Bencana ke beberapa daerah bencana untuk membantu saudara-saudaranya yang dalam keadaan menderita. [mediaumat/htipress/syabab.com]
Galeri Foto





Jakarta - Seiring dengan berlangsungnya Munas ke-2 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kedua di salah satu hotel termahal di Nusantara ini, Hotel Ritz-Carlton Jakarta, berakhir pula era partai yang menjadikan dakwah Islam sebagai basis gerakannya. Ini tentu menjadi pukulan telak bagi kalangan yang mengharapkan perubahan dimulai dari gerakan yang berbasis moral dan menjadikan agama sebagai ruh dari gerakan itu.
Ditabuhnya gema reformasi di tahun 1998 memunculkan partai partai bernuansakan Islam baru untuk mendampingi PPP sebagai representatif Islam di masa Orde Baru. Lahirnya PKB, PAN, PBB, dan PKS di era reformasi lalu seakan ingin menjawab kerinduan masa lalu akan romantika kejayaan Partai Masyumi.
Semua partai seakan menggadang-gadang akan menjadi pemersatu partai-partai Islam di Indonesia dengan menjadi idelogi (pure) Islam sebagai basis gerakannya. Akan tetapi seiring waktu satu per satu partai ini berguguran dan mulai menyandingkan istilah nasionalis-religius sebagai citra dari partai tersebut.
Perlahan namun pasti partai Islam ini tidak lagi menjadikan Islam sebagai citra dan ruh pergerakan dari partai tersebut. Tersisalah pada akhir 2004 hanya PKS yang masih cukup berani mencitrakan sebagai partai dakwah Islam.
Pemilu 2009 pun berakhir dengan bisa dikatakan kekalahan dari partai Islam. Semua partai turun dalam peraihan suara kecuali PKS yang hanya naik beberapa poin saja. Hal ini yang mungkin menjadi alasan kenapa pula pada akhirnya PKS menjual semangat dakwahnya menjadi semangat meraih kemenangan suara yang cenderung sangat mengejar popularitas.
Pergeseran pola gerak PKS mulai tampak dengan sangat sejak periode pemerintahan 2009-2014 ini. PKS mulai tampak pragmatis dalam beberapa isu yang ada serta lebih memilih diam atas isu-isu yang memungkinkan PKS terganggu stabilitas koalisi dengan partai pemenang Pemilu 2009. Ini menjadi sebuah pertanyaan bagi kalangan yang berharap banyak pada partai dakwah yang mengklaim dirinya sebaga partai yang bersih peduli dan profesional. PKS seakan saat ini tidak tegas dan keras dalam menegakkan kebenaran.
Jika menilik saat Pemilu 1999 PK (nama sebelum PKS) hanya mengirimkan 7 politisi Islam militan ke Senayan dan seorang Nur Mahmudi Ismail sebagai Menteri Kehutanan. Akan tetapi perubahan yang terasa karena ruh dakwah setiap individu ini berbuah hasil yang signifikan. Sebutlah Menteri Kehutanan Nur Mahmudi Ismail yang dikenal sederhana dan membersihkan koruptor di Kementerian Kehutanan saat itu.
PKS pun tampaknya mulai menggeser beberapa nama kader yang dulu membesarkan partai ini dengan politisi muda yang tampak populis dan pragmatis. Sebutlah nama Hidayat Nur Wahid yang sekarang hilang ditelan bumi. Padahal sebelumnya beliau seorang Ketua MPR. Atau didepaknya nama Saiful Islam yang dikenal sebagai seorang yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari PKS.
Perubahan lain pun terjadi dari pola pergerakan PKS adalah semangat yang ditularkan kepada kadernya. PKS dulu mendoktrin kadernya untuk mengajak masyarakat berislam dengan baik atau berdakwah secara utuh. Akan tetapi kini semangat yang ditularkan adalah untuk mengajak sebanyak-banyaknya orang yang mencoblos PKS. Proses pergerakannya pun hanya sebatas saat pemilu kepala daerah atau pemilu nasional sehingga semakin membenarkan PKS semakin berpikir instan dan pragmatis untuk merebut kemenangan.
Jika dulu semangatnya adalah ilallah (untuk Allah) maka sekarang adalah ilal hizb (untuk partai). Semangat pelayanan dan pengabdian masyarakat yang menjadi jiwa 'peduli' PKS pun juga semakin berkurang dan tergantikan dengan politik pencitraan yang menghabiskan banyak uang dan cenderung populis.
Hingga terakhir saat Munas ke-2 ini PKS akhirnya mengorbankan dana sangat besar untuk untuk mengadakan acara di hotel yang memiliki tarif rata-rata kamarnya sekitar 3 juta rupiah. Turut diundangnya Dubes Amerika Serikat dan memberikan kesempatan baginya untuk berbicara menjadi pertanyaan.
Apakah PKS akan bersahabat dengan Amerika Serikat? Jika iya jawabannya maka jelas sangat pragmatisme partai ini dan semakin tampak bahwa PKS bukan lagi partai dakwah. Akan tetapi hanya sekedar partai politik biasa yang mencoba merangkul semua kalangan untuk meraih kemenangan.
Ridwansyah Yusuf Achmad

Jakarta - Pilihan politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk terus ke tengah perlu dikritisi. Banyak pengamat politik yang menganggap ini sebagai kemajuan, terobosan, dan keputusan cemerlang. Tetapi, ada beberapa hal yang perlu diingat sebagai pertimbangan penting. Salah belok di antara banyak persimpangan justru akan menghabiskan energi untuk merentasi tujuan.
Setidaknya ada 5 (lima) hal yang pantas menjadi pertimbangan partai yang dalam
pemilu kemarin memiliki pemilih tetap dan sedikit cenderung turun dari pemilu
sebelumnya. 5 hal tersebut antara lain:
Sejarah PKS
Partai yang dideklarasikan dengan nama awal Partai Keadilan (PK) di Lapangan Masjid Al Azhar pada 9 Agustus 1998. Lahir sebagai partai dakwah. Sejak awal partai ini sangat tegas menyuarakan suara syariah.
Misalnya deklarasi 6 partai yang menginginkan kembalinya piagam Jakarta. Hal ini tidak mengherankan karena PK (yang sekarang PKS) merupakan perwujudan perjuangan politik gerakan Tarbiyah (Ikhwan) yang sangat konsen dengan ideologi/ asas Islam.
Kondisi kesejarahan ini perlu mendapatkan perhatian serius karena mau tidak mau ibarat rumah ideologi/ platform partai merupakan pondasi. Mengubah pondasi memerlukan energi besar dan tentunya mengubah corak/ warna partai.
Sebut saja secara simbolis. Presiden PKS Lutfi menyebutkan "seragam kami pun kini berubah menjadi warna putih yang lebih dominan. Ini melambangkan setia kawan, termasuk dalam koalisi". Pidato KH Hilmi pada acara pembukaan munas juga mengarah pada pergeseran pandangan partai untuk terus ke tengah.
Kader Loyal Partai
Perlu diingat bahwa partai ini bisa besar karena loyalitas kader. Proses kaderisasi dimulai jauh sebelum partai ini terpikirkan untuk didirikan. Ketaatan pada pimpinan (Qiyadah) adalah kesadaran yang lahir bukan karena kepentingan material tapi lebih didorong oleh semangat ideologi keislaman.
Pergeseran asas (baik ekplisit maupun implisit) partai bisa direspon lain oleh kader loyal partai. Bila ini terjadi akan terjadi penurunan gerak roda partai, pahitnya, mesin partai bisa macet untuk menghasilkan masa apalagi kader. Ibarat peribahasa mengharap burung terbang tinggi punai di tangan dilepaskan.
Differensiasi
Saat ini di antara partai-partai Islam dan masa Islam yang ada, hanya PKS yang
'masih' memiliki sisa warna Islam dan harapan sebagai partai politik 'sehat'. Dalam ilmu marketing differensiasi menjadi penting. Aspirasi umat Islam sebenarnya bisa dikelola dengan baik jika saluran aspirasi mereka sesuai.
Survey indobarometer, UIN Jakarta, dan SEM Institute mengenai keinginan masyarakat atas syariah Islam (hampir semua lembaga ini menyatakan lebih dari 60% setuju) untuk mengatasi persoalan bangsa. Tentu kondisi ini bisa menjadi pertimbangan betapa besar harapan rakyat Indonesia pada sistem alternatif. Jika PKS ikut ke tengah, mengedepankan alternatif popular dan 'moderat', tentu pasar yang diperebutkan sama dengan partai lain.
Belajar dari PKB, PAN, dan PPP
PKB, PAN, dan PPP adalah realitas yang perlu dibaca. Partai-partai yang bermasa umat Islam ini lebih dulu ke tengah, dan hasilnya adalah perolehan suara yang terus turun dari satu pemilu ke pemilu berikutnya. Selain terjadinya konflik internal partai.
PKS seharusnya mengambil kesempatan ini untuk 'mewadahi' suara yang tak terwadahi. Konsistensi masyarakat membutuhkan partai yang konsisten. Inkonsistensi menunjukkan ketidaksiapan dan menurunkan kredibiltas partai. Kejujuran dan keteguhan partai juga ditunjukkan dari konsistensi ideologi yang diemban.
Pertumbuhan partai adalah jalan panjang. Masyarakat menilai partai dalam frame konsistensinya, sebut saja Hamas yang kemudian dipilih secara mayoritas karena konsistensinya, Masyumi yang dipilih mayotitas juga karena konsistensinya.
Menuju Partai Dakwah yang Islami
Dinamika internal partai dan juga dinamika masyarakat perlu dipandang dalam kerangka integral. Partai adalah intitusi yang memiliki tujuan untuk memberikan edukasi politik, menampung aspirasi, dan kemudian memperjuangkannya dengan ideologi yang diemban.
Memang akan banyak tantangan yang memberikan pilihan ketika perjuangan partai dijalankan. Tetapi, naif bila partai kemudian mengikuti kehendak 'rakyat' dan berubah sesusai dinamika perubahan masyarakat setelah partai pasrah karena ideologi yang dibawanya tidak diterima. Adalah sebuah kegagalan apabila partai keluar dari tujuan perjuangan karena asyik dengan pesta-pesta politik yang ada di sepanjang jalan.
Pertanyaan yang perlu dijawab adalah apakah partai ingin memberikan edukasi kepada publik. Sehingga publik memiliki kesadaran dan meningkat taraf berfikirnya sehingga partai yang mengembannya menjadi pilihan atau sebaliknya.
Partai berjalan di tengah dinamika masyarakat dan bermetamorfosa seiring dengan harapan-harapan yang kemudian memudarkan ideologi partai. Mungkin kita perlu mengingat, Muhammad selama 3 tahun membangun kesadaran politik masyarakat Arab hanya memperoleh 40 orang, dengan penolakan yang luar biasa.
Keteguhan untuk terus memberikan edukasi politik Islam mampu mengantarkan bangsa Arab yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya membawa hasilnya 40 tahun kemudian tanpa mengubah platform perjuangan. Dan, mengantarkan peradaban Islam berkuasa selama 14 abad di 2/3 wilayah dunia.
Zionisme pun menempuh jalan yang sama. Kapitalisme liberal juga meretasi jalan yang demikian. Keteguhan atas prinsip dalam tantangan dan dinamika yang ada akan membuahkan hasil yang besar. Lama, memang, karena kesabaran itu penting, agar kita tidak merugi. Al Quran telah mengingatkan ciri-ciri orang yang tidak merugi, yaitu yang beramal kebaikan, saling menasihati dalam kesabaran dan ketaatan.
Husain Assa'di SP MSi
About Me
- diN!e aZ zaHRa
- Ketika huruf bisa tersusun menjadi kata, ketika kata dapat tertautkan menjadi kalimat, dan ketika kalimat berhasil terangkai menjadi tulisan yang inspiratif. Ketika itulah akan terasakan suatu kebahagiaan yang luar biasa.. MAWAR itu MERAH karena BERANI, MAWAR itu BERDURI untuk melindungi dirinya... Jadilah MAWAR KEHIDUPAN!!!