
INDONESIA Menangis. Indonesia Berduka. Itulah di antara headline (judul utama) beberapa media cetak maupun televisi di Tanah Air.
Ya, negeri ini pantas menangis dan layak berduka. Belum lama rasa sedih hilang dari ingatan akibat bencana kecelakaan kereta di Pemalang yang menewaskan puluhan orang dan puluhan lainnya terluka, tiba-tiba muncul banjir bandang dan longsor di Wasior-Papua yang menewaskan lebih dari 100 orang, dan puluhan lainnya dinyatakan hilang, selain ratusan bangunan luluh-lantak.
Belum juga isak-tangis bangsa ini berhenti, sekitar dua pekan lalu Kota Jakarta lumpuh total karena kemacetan luar biasa terjadi di sebagian ruas jalan Ibukota karena banjir dan genangan air di mana-mana. Belum tuntas Pemerintah mengevakuasi dan menyelamatkan penduduk di Wasior dan membenahi akibat banjir di Jakarta, tiba-tiba datang pula gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawai, yang mengakibatkan lebih dari 400 orang meninggal, dan ratusan lainnya dinyatakan hilang.
Seolah ‘belum puas’, alam kembali datang menghantam negeri ini. Gunung Merapi di Jawa Tengah meletus, memuntahkan lahar panas. Akibatnya, puluhan orang kembali tewas dan luka-luka, sementara sebagian lain terpaksa hidup di pengungsian.
Jika dihitung sejak bencana ‘mahadahsyat’, yakni Tsunami Aceh di akhir tahun 2004 yang menewaskan ratusan ribu orang, hingga tahun 2010 ini, negeri ini memang pantas disebut dengan ‘negeri bencana’. Ironisnya, Pemerintah selaku pengurus rakyat, selalu saja terkesan lamban dan kurang tanggap. Padahal sudah jelas sejumlah wilayah-bahkan menurut penelitian Walhi mencapai 83 persen-di Indonesia rawan bencana, termasuk bencana lingkungan (ekologis). Sekitar 150 kabupaten/kota di Indonesia, dari Sumatera hingga Papua, juga rawan diterjang tsunami (Kompas, 2/11/10). Namun, Pemerintah seperti tidak serius melakukan antisipasi. Misal, meski ada Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB), banyak daerah yang belum mempunyai Badan Penanggulangan Bencana. Dari 479 kabupaten/kota di Indonesia, hanya ada 171 yang sudah membentuk Badan Penanggulangan Bencana Dearah (BPBD) (Kompas, 2/11/10). Selain itu, anggaran Pemerintah dalam APBN selama ini juga kecil. Dalam APBN 2010, misalnya, anggaran untuk penanggulangan bencana hanya Rp 3,9 triliun. Dari jumlah tersebut, menurut Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati, saat ini dana siap pakai (on call) yang tersedia di BNPB hanya mencapai Rp 50 miliar (Pelita, 28/10/10).
Dua Macam Bencana
Jika kita cermati, ada 2 (dua) macam bencana: bencana alam dan bencana kemanusiaan. Bencana alam terjadi memang murni karena faktor alam. Misal: Gempa bumi, tsunami, gunung meletus, kekeringan karena kemarau panjang, dll. Bagi seorang Mukmin, bencana alam merupakan cobaan/ujian atas kesabaran:
وَلَنَبلُوَنَّكُم بِشَيءٍ مِنَ الخَوفِ وَالجوعِ وَنَقصٍ مِنَ الأَموٰلِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرينَ ﴿١٥٥﴾
Sungguh Kami akan menimpakan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan serta kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan; sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (QS al-Baqarah 155).
Adapun bencana kemanusiaan terjadi memang karena ulah manusia. Intinya, manusialah sesungguhnya yang-sadar ataupun tidak-‘mengundang’ datangnya bencana atas mereka. Bencana banjir dan longsor, misalnya, adalah akibat hutan terus mereka gunduli. Kecelakaan kereta api yang terus terjadi-rata-rata 6 hari sekali selama 2009-2010 saja (Berdikarionline.com, 4/1/10) adalah akibat Pemerintah tetap lalai menyediakan sarana transportasi yang aman. Bencana kemiskinan dan rawan pangan/gizi buruk adalah akibat Pemerintah terus menyerahkan kekayaan alam milik rakyat kepada pihak asing melalui program privatisasi. Jangan dilupakan juga sejumlah bencana kemanusiaan lain seperti maraknya kasus korupsi, kerusakan moral remaja, tingginya angka kriminalitas, mewabahnya penyakit kelamin dan AIDS akibat pergaulan bebas, meningkatnya akan pengangguran dan angka putus sekolah, dan masih banyak yang lainnya. Semua bencana kemanusian ini pada dasarnya adalah akibat ulah manusia yang terus-menerus melakukan berbagai pelanggaran terhadap aturan-aturan sang Pencipta, Allah SWT. Mereka bahkan tetap enggan menerapkan hukum-hukum (syariah)-Nya. Bagi seorang Muslim, berbagai bencana ini harus dipahami sebagai peringatan/teguran dari Allah SWT agar segera kembali (taat) kepada-Nya:
ظَهَرَ الفَسادُ فِى البَرِّ وَالبَحرِ بِما كَسَبَت أَيدِى النّاسِ لِيُذيقَهُم بَعضَ الَّذى عَمِلوا لَعَلَّهُم يَرجِعونَ ﴿٤١﴾
Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan karena ulah (kemasiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari akibat ulah meeka itu agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS ar-Rum [30]: 41).
Mewaspadai Bencana Baru
Selain karena merupakan akibat manusia yang tetap enggan menerapkan syariah Allah SWT, berbagai bencana kemanusiaan yang terjadi di dunia, termasuk di negeri ini, sebetulnya karena penjajahan yang dilakukan oleh negara-negara Barat, khususnya AS, sebagai pengemban utama Kapitalisme global. AS-lah, dengan sekutu-sekutunya, yang nyata-nyata telah menciptakan bencana kemanusiaan di Irak, Afganistan dan Pakistan sampai hari ini. AS pun terus mendukung secara penuh penjajahan Israel di Palestina sekaligus membunuhi ratusan ribu penduduknya selama puluhan tahun. AS pula yang sejak berdirinya hingga kini menciptakan berbagai konflik, bahkan melakukan aksi militer langsung, di berbagai negara. AS pun telah membunuh serta memenjarakan dan menyiksa ribuan Muslim di seluruh dunia-termasuk di negeri ini melalui tangan para agennya-hanya karena mereka disangka teroris.
AS pula yang saat ini, langsung ataupun tidak langsung (antara lain melalui IMF, Bank Dunia, USAID), melakukan penjajahan baru (terutama penjajahan ekonomi) atas Indonesia. Akibatnya, melalui sejumlah modus penjajahan AS, termasuk lewat legislasi UU di DPR, berusaha terus menguras habis kekayaan alam negeri ini (minyak, gas, emas, perak, dan barang tambang lain) melalui perusahaan-perusahaan mereka seperti Freeport, Exxon Mobile, dll. Tambang emas di Papua dikeruk oleh PT Freeport dan 90% keuntungannya masuk ke AS. Blok Natuna yang diperkirakan memiliki kandungan gas hingga 222 TCF (triliun kubik kaki), 76%-nya dimiliki oleh ExxonMobile. Blok Cepu yang diprediksi memiliki kandungan minyak lebih dari 600 juta barel sehingga bisa menjadi andalan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia, 45%-nya juga dimiliki oleh ExxonMobile. Selain itu, masih banyak perusahaan major AS yang secara keseluruhan menguasai 90% minyak dan gas, seperti Total Fina Elf, BP Amoco Arco, Texaco, Conoco, Repsol, Unocal, Santa Fe, Gulf, Premier, Lasmo, Inpex dan Japex.
Terkait dengan ini, buku The Shock Doctrine; The Rise of Disaster Capitalism karangan wartawati Kanada, Naomi Klein, yang diterbitkan Penguin Books, London, Inggris (2007), mengungkap secara gamblang bagaimana kaum kapitalis (tentu saja dengan AS sebagai gembongnya, pen.) melakukan aksi-aksi jahatnya terhadap bangsa dan negara lain. Buku ini pun menyebut krisis moneter Asia 1997 sebagai hasil desain kaum kapitalis karena mereka ingin menguasai aset-aset strategis di kawasan itu, mencaplok aset-aset perusahaan nasional Asia yang tumbuh meraksasa dan hendak menggulingkan rezim-rezim yang berubah kritis, seperti Soeharto di Indonesia. Ketika Indonesia dan Asia akhirnya lunglai karena krisis moneter, IMF datang menawarkan obat dengan syarat liberalisasi pasar. Hasilnya, hanya dalam 20 bulan, perusahaan-perusahaan multinasional asing berhasil menguasai perekonomian Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Filipina dan juga Malaysia lewat 186 merger dan akuisisi perusahaan-perusahaan besar di negara-negara ini. “Ini adalah pengalihan aset dari domestik ke asing terbesar dalam limapuluh tahun terakhir,” kata ekonom Robert Wade.
Itulah ‘secuil’ bencana kemanusiaan yang telah diciptakan AS atas Dunia Islam, termasuk di negeri ini.
Menerima Obama: Mengundang Bencana
Karena itu, jika kemudian Pemerintah dalam waktu dekat akan menerima kedatangan Obama-Presiden AS sang penjajah-di Tanah Air, jelas Pemerintah seperti sedang “mengundang” bencana baru. Pasalnya, sebagai pemimpin negara penjajah, Presiden AS Obama tentu bakal makin mengokohkan penjajahan barunya atas negeri ini. Apalagi sebelum kedatangan Obama Pemerintah sudah menandatangani kerjasama kemitraan menyeluruh dengan AS. Kemitraan menyeluruh dengan negara penjajah seperti AS tentu harus dibaca sebagai penjajahan menyeluruh AS atas negeri ini. Pasalnya, kemitraan Indonesia-AS ini mencakup kerjasama kedua negara di bidang politik, keamanan, ekonomi, pembangunan, sosial, budaya, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kenyataannya, sebelum ini pun setiap kesepakatan atau perjanjian kerjasama Indonesia dengan AS sesungguhnya lebih merupakan penjajahan AS atas negeri ini. Di bidang ekonomi, Amerika, misalnya, memfasilitasi bantuan (baca: utang luar negeri) untuk sekaligus mendorong pembangunan berbasis investasi asing di Indonesia. Dengan cara ini, Amerika menjebak Indonesia dalam perangkap utang (debt trap) sehingga negeri ini mudah didikte bahkan hingga “bertekuk lutut”.
Di bidang keamanan, Indonesia meneken kerjasama dalam penanggulangan terorisme. AS bahkan mengucurkan bantuan dana untuk Indonesia sebagai bagian dari proyek Perang Melawan Terorisme. Hasilnya, melalui aparat Densus 88, sejumlah Muslim ditangkap dan ditembak di tempat hanya karena disangka teroris. Di sisi lain, proyek Perang Melawan Terorisme ala AS ini terbukti hanya demi memenuhi ambisi politik AS, yakni menguasai berbagai negeri Islam, seperti Irak dan Afganistan, sekaligus mencegah kebangkitan Islam, termasuk di Tanah Air.
Inilah yang perlu disadari oleh bangsa ini, terutama penguasa dan elit-elit politiknya. Oleh karena itu, tentu sangat menyedihkan jika kaum Muslim yang mayoritas di negeri ini sampai membiarkan Obama-presiden negara penjajah, AS-menginjakkan kakinya di negeri ini; apalagi jika sampai mereka menerima dan menyambutnya dengan penuh kehangatan. Jika ini yang terjadi, sungguh ini adalah sebuah kemaksiatan di sisi Allah SWT sekaligus merupakan ‘bencana lain’ bagi bangsa dan negeri ini. Allah SWT berfirman:
فَاعلَم أَنَّما يُريدُ اللَّهُ أَن يُصيبَهُم بِبَعضِ ذُنوبِهِم
Ketahuilah bahwa Allah benar-benar menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka (QS al-Maidah [5]: 49).
Na’udzu billah min dzalik. []
KOMENTAR AL-ISLAM:
Batalkan Penjualan Saham KS (Krakatau Steel) (Republika, 2/11/2010)
Penjualan KS yang notebene milik rakyat adalah bencana lain bagi bangsa dan negeri ini
"TRAGEDI PALESTINA: MASALAH AKIDAH, BUKAN SEKADAR MASALAH KEMANUSIAAN "

[Al-Islam 510] "It’s not about jews nor muslim nor christian. It’s about humanity (Ini bukan masalah Yahudi, Muslim atau Kristen. Ini masalah kemanusiaan).” Itulah di antara kalimat yang diusung oleh salah satu organisasi mahasiswa Islam saat berdemo menyikapi tragedi paling mutakhir di Palestina.
Pernyataan tersebut boleh jadi mewakili sebagian kaum Muslim saat ini dalam menyikapi penyerangan pasukan Israel terhadap para relawan di Kapal Marvi Marmara–satu dari 6 kapal Armada Kebebasan (Freedom Flotilla)–yang menewaskan puluhan relawan pada hari Senin (31/5).
Memang, dengan hanya melihat tragedi mutakhir ini, siapapun akan menilai bahwa ini masalah kemanusiaan. Alasannya, Israel menyerang para relawan dari berbagai negara dan lintas agama. Korban serangan Israel pun tak hanya Muslim, tetapi juga non-Muslim.
Namun, ini tentu bukan satu-satunya alasan. Pasalnya, setiap kali Tragedi Palestina berulang, termasuk pembantaian besar-besaran oleh institusi Yahudi sekitar dua tahun lalu yang menewaskan ribuan Muslim Palestina, hal yang sama juga mengemuka. Intinya, semua itu tidak terkait dengan masalah agama (baca: Islam), tetapi semata-mata masalah kemanusiaan. Dengan demikian, ada faktor lain mengapa sebagian kaum Muslim memandang Tragedi Palestina semata-mata sebagai masalah kemanusiaan. Salah satunya, karena kesadaran politik umat Islam yang lemah. Akibatnya, mereka tidak sadar, bahwa Barat imperialis selalu berusaha menggeser isu Palestina semata-mata sebagai masalah kemanusiaan, bukan masalah agama. Pasalnya, musuh-musuh Islam itu amat paham, sekali kaum Muslim mengaitkan isu Palestina dengan masalah agama (Islam), mereka akan dengan mudah menyuarakan jihad (perang) melawan institusi Yahudi penjajah Palestina itu. Inilah yang tentu amat ditakuti institusi Yahudi dan ‘induk semangnya,’ yakni Barat imperialis.
Akar Masalah Palestina
Bagi kaum Muslim, akar persoalan Palestina (sejak Yahudi menjajah Palestina tahun 1948 hingga hari ini) sesungguhnya bersinggungan paling tidak dengan tiga aspek: (1) akidah/syariah Islam; (2) sejarah; (3) politik.
1. Aspek akidah/syariah.
Dalam pandangan Islam, Tanah Palestina (Syam) adalah tanah milik kaum Muslim. Di tanah ini berdiri al-Quds, yang merupakan lambang kebesaran umat ini, dan ia menempati posisi yang sangat mulia di mata kaum Muslim. Ada beberapa keutamaan dan sejarah penting yang dimiliki al-Quds. Pertama: tanah wahyu dan kenabian. Rasulullah saw. bersabda, "Para malaikat membentangkan sayapnya di atas Syam dan para nabi telah membangun Baitul Maqdis (Al-Quds).” Ibnu Abbas menambahkan bahwa Rasulullah saw. juga bersabda, "Para nabi tinggal di Syam dan tidak ada sejengkal pun kota Baitul Maqdis kecuali seorang nabi atau malaikat pernah berdoa atau berdiri di sana.” (HR at-Tirmidzi).
Kedua: Tanah kiblat pertama. Arah kiblat pertama bagi Nabi Muhammad saw. dan kaum Muslim setelah hijrah ke Madinah adalah Baitul Maqdis (al-Quds) sampai Allah SWT menurunkan wahyu untuk mengubah kiblat ke arah Ka’bah (QS al-Baqarah [2]: 144).
Ketiga: Masjid al-Aqsha adalah tempat suci ketiga bagi umat Islam dan satu dari tiga masjid yang direkomendasikan Nabi saw. untuk dikunjungi. Beliau bersabda, “Tidaklah diadakan perjalanan dengan sengaja kecuali ke tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), Masjidil Haram (di Makkah), dan Masjid Al-Aqsha.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah saw. pun bersabda, “Sekali shalat di Masjidil Haram sama dengan 100.000 shalat. Sekali shalat di Masjidku (di Madinah) sama dengan 1000 shalat. Sekali shalat di Masjid al-Aqhsa sama dengan 500 shalat.” (HR ath-Thabrani dan al-Bazzar).
Kelima: tanah ibukota Khilafah. Yunus bin Maisarah bin Halbas bahwa Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Perkara ini (Khilafah) akan ada sesudahku di Madinah, lalu di Syam, lalu di Jazirah, lalu di Irak, lalu di Madinah, lalu di al-Quds (Baitul Maqdis). Jika Khilafah ada di al-Quds, pusat negerinya akan ada di sana dan siapa pun yang memaksa ibukotanya keluar dari sana (al-Quds), Khilafah tak akan kembali ke sana selamanya.” (HR Ibn Asakir).
2. Aspek Sejarah.
Tercatat bahwa Syam (Palestina adalah bagian di dalamnya) pernah dikuasai Romawi selama tujuh abad (64 SM-637 M). Namun, berita akan jatuhnya Syam dari imperium Romawi ke tangan kaum Muslim muncul kala Rasulullah saw. menghancurkan sebuah batu ketika penggalian parit di Madinah dalam rangka menghadapi kaum musyrik dari Makkah. Ketika itu Rasulullah saw. berkata, "Allah Mahabesar. Sungguh telah diberikan kunci Syam kepadaku."
Cita-cita agung untuk merebut Syam dari imperium Romawi terus digelorakan oleh Rasulullah saw. kepada para Sahabat, di antaranya kepada Muadz pada suatu hari. Beliau bersabda, “Muadz! Allah Yang Mahakuasa akan membuat kalian sanggup menaklukkan Syam, setelah kematianku…”
Tepat pada tahun ke-8 H sebanyak tiga ribu pasukan yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah bergerak menuju Balqa’, salah satu wilayah Syam. Di sana sudah menanti bala tentara Romawi yang berjumlah dua ratus ribu di bawah pimpinan Herqel, seorang kaisar Romawi. Sampailah detik-detik yang menegangkan: tiga ribu pasukan kaum Muslim berhadapan dengan kekuatan besar berjumlah dua ratus ribu pasukan. Saat itu, sebagian Sahabat berharap agar Rasul saw. mengirim tentara tambahan. Namun, seorang sahabat bernama Abdullah bin Rawahah memberikan semangat kepada seluruh pasukan sembari berkata, “Wahai kaum Muslim, demi Allah…bersaksilah bahwa kita tidak berperang karena banyaknya pasukan. Kita tidak berperang melawan mereka kecuali atas nama Islam yang Allah telah memuliakan kita karena Islam. Berangkatlah, berjihadlah! Sesungguhnya hanya ada satu pilihan bagi kita, menang atau syahid!”
Saat pasukan kaum Muslim mendengar seruan ini, mereka segera bangkit melawan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya walau dengan jumlah yang tidak seimbang. Dalam pertempuran itu, panglima perang kaum Muslim, Zaid bin Haritsah syahid, dan diganti oleh panglima kedua, Ja’far bin Abi Thalib. Ja’far pun syahid, lalu tonggak kepemimpinan diserahkan kepada panglima Islam yang ketiga, Abdullah bin Rawahah. Beliau pun syahid. Akhirnya, pasukan Islam dipimpin Khalid bin Walid.
Perjuangan panjang dan melelahkan kaum Muslim itu baru menuai hasil pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. (638 M).
Namun sayang, setelah dikuasai kaum Muslim sekian abad hingga masa Kekhilafahan Abbasiyah, tanggal 25 November 1095, Paulus Urbanus II menyerukan Perang Salib dan tahun 1099 pasukan Salib menaklukkan al-Quds. Mereka membantai sekitar 30.000 warga al-Quds dengan sadis tanpa pandang bulu (wanita, anak-anak dan orang tua).
Namun, alhamdulillah, pada tahun 1187, Salahuddin al-Ayyubi sebagai komandan pasukan Muslim berhasil membebaskan kembali al-Quds dari pasukan Salib yang telah diduduki selama sekitar 87 tahun (1099–1187).
3. Aspek politik.
Aspek politik dari isu Palestina ini tidak bisa dilepaskan dari zionisme dan imperialisme Barat. Zionisme adalah gerakan orang-orang Yahudi untuk mendirikan negara khusus bagi komunitas mereka di Palestina. Theodore Hertzl merupakan tokoh kunci yang mencetuskan ide pembentukan negara tersebut. Ia menyusun doktrin Zionismenya dalam bukunya berjudul Der Judenstaad’ (The Jewish State). Secara nyata, gerakan ini didukung oleh tokoh-tokoh Yahudi yang hadir dalam kongres pertama Yahudi Internasional di Basel (Swiss) tahun 1895. Kongres tersebut dihadiri oleh sekitar 300 orang, mewakili 50 organisasi zionis yang terpencar di seluruh dunia.
Sebagai gerakan politik, zionisme tentu membutuhkan kendaraan politik. Zionisme lalu menjadikan Kapitalisme–yang berjaya dengan imperialismenya–sebagai kendaraan politiknya. Zionisme ternyata berhasil menuai berbagai keuntungan politis berkat dukungan imperialisme Barat sejak dimulainya imperialisme (penjajahan) tersebut hingga saat ini.
Karena kesadaran pengikut zionis akan pentingnya bersandar kepada pihak luar, maka mereka bergabung dengan sentral kekuatan imperialisme yang mampu untuk menjamin perlindungan dan keamanan terhadap mereka. Untuk itu, zionis Yahudi memindahkan kegiatan dan markas mereka ke Amerika, agar terus mendapat jaminan perlindungan dan keamanan Amerika.
Zionis dan Imperialis=Teroris!
Eratnya hubungan zionisme dengan imperialisme AS dapat dilihat dari beberapa fakta berikut. Semasa masih menjadi presiden, Bill Clinton (14/8/2000), misalnya, pernah berkata, “Kami harus menjalin hubungan erat dengan Israel, sebagaimana telah saya lakukan sepanjang kekuasaan saya sebagai presiden dan sepanjang 52 tahun lampau.”
Pada awal-awal kekuasaannya sebagai presiden AS, George W. Bush, ketika mengucapkan selamat kepada Ariel Sharon dalam Pemilu tanggal 6/2/2001, juga menyatakan, “Amerika akan bekerjasama dengan semua pemimpin Israel sejak berdirinya pada tahun 1948. Hubungan bilateral kami sangat kokoh layaknya batu karang…”
Presiden AS saat ini, Barack Obama, sejak awal kampanyenya untuk pemilihan presiden, juga mengungkapkan hal senada: dukungan total dan tanpa syarat terhadap Yahudi-Israel.
Demikianlah sikap resmi pemerintah AS terhadap Israel dari dulu hingga kini. Wajar jika berbagai kebijakan politik yang kotor dan kejam yang ditempuh Israel di Timur Tengah akan selalu mendapatkan dukungan dari AS. Karena itu, baik zionis maupun imperialis seperti AS sesungguhnya adalah teroris!
Sikap Umat Islam
Jelas dari paparan di atas, isu Palestina sesungguhnya akan selalu berkaitan dengan aspek agama, sejarah dan politik; bukan semata-mata masalah kemanusiaan. Karena itu, belum terlambat waktunya bagi kaum Muslim untuk menyadari bahwa musuh mereka saat ini adalah Zionisme Yahudi dan Imperialisme Barat (terutama AS). Kaum Muslim harus sadar bahwa akar masalah Palestina adalah keberadaan negara Israel yang berdiri di atas tanah milik kaum Muslim yang telah mereka rampok. Jadi solusinya jelas, yaitu memobilisasi tentara negeri-negeri Islam untuk menghancurkan negara Israel dan mengusir Yahudi dari tanah Palestina. Sayangnya solusi ini tidak dapat dilakukan selama kaum Muslim terpecah belah dan dipimpin oleh pemimpin yang tuduk di bawah hegemoni Barat. Karena itu, kaum Muslim harus bersatu membangun sebuah institusi yang kuat, yakni sebuah negara yang berbasiskan ideologi Islam. Sebab, ideologi Barat–yakni Kapitalisme yang melahirkan imperialisme dan zionisme–hanya mungkin dilawan dengan ideologi Islam. Begitu pula negara semacam AS dan Israel hanya mungkin dapat dilawan dengan Negara yang menyatukan kaum Muslim, yakni Khilafah Islam.
]وَاللهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ[
Allah SWT berkuasa atas urusan-Nya, namun kebanyakan manusia tidak memahaminya (QS Yusuf [12]: 21).
KOMENTAR AL-ISLAM:
Pemerintah Kelola Bantuan Gaza (Republika, 8/6/2010).
Harusnya Pemerintah juga mengelola tentaranya untuk memimpin jihad ke Palestina.
About Me
- diN!e aZ zaHRa
- Ketika huruf bisa tersusun menjadi kata, ketika kata dapat tertautkan menjadi kalimat, dan ketika kalimat berhasil terangkai menjadi tulisan yang inspiratif. Ketika itulah akan terasakan suatu kebahagiaan yang luar biasa.. MAWAR itu MERAH karena BERANI, MAWAR itu BERDURI untuk melindungi dirinya... Jadilah MAWAR KEHIDUPAN!!!