ZONA ReVoLuSi ISLAM

Beyond The InspiRation..Menjadi Sumber InsPrasi.. Keep Fight for WhiTe revoLution until Islam doMinate the woRld..

Tampilkan postingan dengan label CINTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CINTA. Tampilkan semua postingan


Jika ada yang bertanya, bagaimana aku memandang perkara jodoh, maka akan ku jawab, bagiku sama saja kau menanyakan keyakinanku tentang kematian..


Jodoh dan kematian adalah rahasia-Nya yang tersembunyi dalam tabir keghaiban-Nya, dan tersimpan dengan indah dalam tiap lembar daun di lauhul mahfuzh..



Lalu apa yang ku khawatirkan? Dan kenapa pula ku harus mengejar? Tidak, aku tak sudi.. Ku katakan padamu wahai para wanita perhiasan terindah dunia..



Jangan pernah mengobral murah kehormatanmu untuk hal yang kau sendiri tak yakin kehakikiannya? Pahamkah maksudku?



Ku tanya padamu, pernahkah kau jatuh cinta? Ku akui, akupun juga… Tapi tak pantas bagi kita mengumbar rasa itu.. Rasa yg entah akan berlabuh di mana?Lalu pikirkan, jika dia yang kau cinta, yang mengganggu tidurmu, membuatmu menangis karena rindu, ternyata bukan atau mungkin tak kan pernah menjadi pendampingmu, atau bukan kau yang dia pilih? Tak malukah? Tak malukah?



Lalu, apa masih mampu kau tatap wajah suamimu kelak dengan cinta yang seutuhnya jika ternyata dulu kau pernah menaruh separuh hatimu pada lelaki lain… Wahai para lelaki, tak cemburukah? Tak cemburukah? Tak cemburukah kau jika saat ini wanita yang kau pilih kelak sedang menyerahkan hatinya pada lelaki selainmu, namun ternyata kau yang akan meminangnya.


Tak sakit hatikah bila ketika bersamamu, ternyata dia tengah membandingkanmu dengan sosok lain dalam hatinya? Tak sedihkah? Tak sakitkah? Tak cemburukah? Jika kau, para lelaki, menjawab 'ya' maka, itu pula yang kami, wanita, rasakan..



Takkan pernah bosan ku ingatkan, bahwa yang akan berlaku tetaplah ketetapan-Nya…. Sekuat apapun usaha kalian jika tak sejalan dengan kehendak-Nya, maka tak akan pernah terjadi.. . Lalu, buat apa kau mubazirkan waktumu? Untuk apa Kau kuras energi? Kerana apa kau habiskan airmatamu?.... untuk orang yang belum tentu menjadi milikmu? Untuk apa?



Dan ku katakan padamu. Mungkin kau yang akan memilihku belum ku cinta saat itu. Tapi ketahuilah, karena kau memilihku, kau ku cinta... Bukankah jatuh cinta adalah sebuah proses? Akan ada sebab, akan ada hal yang membuatku jatuh cinta padamu, dan kau pun akan mencintaiku.. Dan ketika itu terjadi, semua telah terangkai dengan indah dalam kerangka kehalalan, dalam ikatan pernikahan yang disebut mitsaqan ghalizhan..


Dan tak akan pernah ada ragu ku katakan kuserahkan cintaku UTUH TAK TERSENTUH, padamu.. Hanya padamu.. ya, hanya padamu dan untukmu duhai cintaku….



source: Renungan Kisah Inspiratif Muslimah

DUH..CINTA








baitijannati – Cinta …kata-kata ini saat ini sangatlah mendominasi. Cinta bisa mengalahkan segalanya, cinta adalah sumber kehidupan, cinta adalah penerang…begitu katanya. Tapi apakah memang seperti itu kenyataannya.

Ketika membicarakan cinta, saat ini masyarakat diarahkan untuk menjadikan cinta yang lebih utama dibandingkan apapun. Kita lihat sinetron-sinetron saat ini, atas nama cinta, tidak lagi perduli apakah seseorang itu sudah ada yang memiliki atau tidak. Seperti dalam sinetron the bold and the beautiful, atas nama cinta seorang ibu tega terhadap anaknya sendiri, karena dia sudah terlanjur cinta sama suami anaknya dan bahkan bapak dari cucunya sendiri, masyaAllah…dan atas nama cinta juga seorang laki-laki menikah dengan laki-laki dan seorang perempuan menikah dengan perempuan, naudzubillahhimindhalik

Tapi disisi yang lain, film-film juga mengajarkan bahwa cinta itu adalah menerima orang apa adanya, dan mencintainya dengan sepenuh hati, kalau bisa sehidup semati. Seperti dalam film Romeo and Juliet, karena saling mencintai dan tidak ingin dipisahkan akhirnya mereka mati bersama. Mereka tidak lagi peduli apakah maninggalnya mereka dengan cara yang benar (Husnul khotimah) atau cara yang bathil, tapi atas nama cinta semuanya begitu terasa haru dan bahkan terkadang kita terhanyut dan akhirnya membenarkan saja apa yang mereka lakukan. Lain lagi dengan film Bridget Jone’s Diary, disitu digambarkan, seorang Mark Darcy yang begitu sempurna, dia seorang top lawyer di England karena begitu mencintai si Bridget (Renée Zellweger) dia menerima si Bridget dengan sepenuh hati, meskipun si Bridget orangnya gendut, suka berbuat yang memalukan dll. Bahkan Si Darcy rela melakukan apa saja untuk membuat Bridget senang. Duh begitu indahkan cinta….

Pada kenyataannya, cinta tidaklah seindah apa yang digembor-gemborkan. Pada faktanya si Renée Zellweger pada kehidupan nyatanya dia harus berpisah dengan suaminya, karena dia tidak mau menguruskan badan dia kembali seperti semula (itu kata suatu majalah, tidak tahu kepastian kebenarannya). Dan banyak sekali contoh kehidupan disekeliling kita, ketika girl friendnya bunuh diri apakah lantas boy friendnya ikut bunuh diri juga…ndak kan, bahkan kebanyakan mereka cari pasangan lain lagi, yang mati..ya mati sia-sia saja.

Begitu juga ketika kita menikah, apakah lantas cinta suami itu milik istri sepenuhnya atau cinta istri milik suami sepenuhnya, duh…tak tahu lah. Mungkin seorang pasangan pernah membicarakan tentang poligami (yang itu mubah dalam Islam, dan saat ini diopinikan seakan-akan hal yang merugikan wanita). Ketika berbicara poligami saat ini seakan-akan pihak perempuan adalah pihak yang merugi, dan pihak laki-laki digambarkan sebagai sosok yang serakah dan sebagainya. Jadi seakan-akan cinta itu haruslah mendominasi, seluruh kehidupan. Sampai-sampai hukum Allahpun kalau berdasarkan cinta merugikan, maka hukum Allah itu akan dianggap suatu hal jelek, masyaAllah…

Begitulah akibat dari sistem kapitalis saat ini, segala sesuatu diukur berdasarkan kenikmatan materi belaka. “Cinta” adalah salah satu ide yang dihembuskan kepada ummat Islam saat ini. Saat ini ide tersebut sangat berhasil mempengaruhi kaum muslimin, dan terutama kalangan pemudanya.

Islam datang seperangkat hukum yang lengkap dan jelas. Dalam permasalahan cinta inipun Islam punya aturannya. Nah coba mari kita membuka kembali al-Qur’an tentang pembahasan cinta ini.



Bagaimana Islam menempatkan cinta?

Dalam al-Qur’an Allah sudah jelas sekali mendudukkan cinta ini, bagaimana cinta seorang hamba terhadap Allah dan Rasulnya, cinta seorang orang tua terhadap anaknya, cinta seseorang terhadap harta dan perniagaannya, dan bagaimana cinta seseorang terhadap saudaranya dan bagiamana pula cinta seorang Islam terhadap orang kafir. Allah menjelaskan hal ini dengan gamblang dan terperinci.



Wujud cinta seorang hamba terhadap Allah dan Rasulnya, tiada lain hanya dengan cara mengikuti syari’at yang telah ditetapkan oleh Allah.

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Ali Imran [3]: 31)

Cinta hama terhadap Allah dan Rasulnya, mengalahkan terhadap cintanya kepada yang lainnya, tak terkecuali anak dan istrinya bahkan jiwanya.

“Katakanlah: ‘jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (Qs. At Taubah [9]: 24)

Bagaimana ketika kita murtad (tidak lagi memeluk ajaran Allah), Allah tidaklah membutuhkan cinta kita, tapi kitalah yang membutuhkan cintaNya.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui”. (Qs. Al Maidah [5]: 54)



Terhadap saudara kita seaqidah, haruslah kita mencintainya seperti kita mencintai diri kita sendiri, bahkan lebih dari cinta kita terhadap diri kita sendiri. Hal ini sudah dicontohkan oleh para sahabat, yaitu persahabat antara kaum Anshor dan Muhajirin. Betapa cinta mereka terhadap saudaranya, kaum Anshor rela memberikan apa saja yang mereka punyai meskipun diri mereka dalam keadaan susah.

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”. (Qs. Al Hasyr [59]: 9)

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (Qs. Al Hasyr [59]: 10)



Islam juga menjelaskan bagaimana cinta kita terhadap orang kafir. Terhadap sesama muslim kita saling berkasih sayang, namun keras terhadap orang kafir, apalagi terhadap orang kafir yang menyerang ummat Islam.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”. (Q.s Al Fath [48]: 29)



Selain itu juga Islam mengajarkan bagaimana cinta seorang anak terhadap bapak ibunya. Ibu yang telah melahirkan kita, dan bapak ibu yang telah merawat kita sejak kita tidak mampu berbuat apa-apa. Allah menyuruh seorang anak untuk berbakti kepada keduanya dan bersyukur kepada Allah.

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).” (Qs. Al Ahqâf [46]:15)

“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (Qs. Luqman [31]:14)

Dari Abu Hurairah r.a, katanya: “Seseorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya, Rasulullah, siapakah dari keluargaku yang paling berhak dengan kebaktianku yang terindah?” Jawab beliau, “Ibumu!, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu, kemudian yang terdekat kepadamu, yang terdekat“.



Dan yang tidak kalah penting, didalam al-Qur’an dijelaskan juga bagaimana cinta Allah terhadap hamba-hambanya yang beriman dan bertaqwa.

“(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa”. (Ali Imran [3]:76)

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (Qs. An-Nisâ’ [4]: 69)

“Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Qs. al-Mâ’idah [5]: 93)



Jadi penempatan cinta itu tidaklah membabibuta, sebagai orang muslim kita haruslah mengikuti perintah Allah, begitu juga ketika menempatkan cinta. Kita harus menempatkan cinta terhadap Allah diatas cinta yang lainnya, bahkah mengalahkan cinta seorang istri terhadap suaminya dan mengalahkan cinta seorang ibu terhadap anak-anaknya. Sebagai seorang istri, haruslah paham cinta suami tidaklah mutlaq untuk istri. Sebagaimana penjelasan ayat-ayat diatas, ketika ada panggilan jihad seorang suami haruslah rela meninggalkan istri dan anak-anaknya demi melaksanakan perintah Allah yang mulia. Bahkan seorang istri haruslah mengalah terhadap orang tua suami, karena orang tualah yang lebih punya haq terhadap suami kita.

Seorang pemuda Islam haruslah mengerti Islam, para pemuda inilah yang menjadi tumpuan kebangkitan Islam. Kalau sampai para pemuda Islam dibuai dengan “cinta” yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam, maka kita akan bisa menebak apa yang akan terjadi nantinya. Pemuda Islam harus menyingkirkan virus-virus “cinta” yang tidak jelas artinya itu. Pemuda Islam haruslah menjadikan cinta kepada Allah menjadi cinta yang utama, berbakti kepada bapak ibunya dan bersaudara terhadap sesama muslim. So jangan mau lagi dilenakan oleh sesuatu yang tidak jelas artinya dan tidak jelas balasannya. Kalau kita mencintai dan dicintai karena Allah, insyaAllah jannahlah balasannya.

Amat jelas dan terperinci sekali penjelasan Allah dalam ayat-ayatnya, masihkan kita mengikuti arus dimasyarakat yang menjadikan cinta sebagai tolak ukur kehidupan? Hanya al-Qur’an dan as-Sunnah sajalah yang pantas untuk kita jadikan tolak ukur dalam kehidupan kita. Semoga ummat Islam kembali menjadikan Islam sebagai bagian dari hidupnya kembali.(Oleh: Ummu Hafizh, ://baitijannati.wordpress.com/)


Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang
yang sempurna untuk dicintai
TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna
dengan cara yang sempurna.


Jikalau kita memancing ikan, setelah ada ikan yang terperangkap di mata kail, hendaklah kita segera mengambil ikan itu. Janganlah sesekali kita melepaskan ia seperti semula ke dalam air begitu saja. Karena ia akan sakit oleh karena ketajaman mata kail kita dan mungkin ia akan menderita selama ia masih hidup.

Begitu juga…
Jikalau kita memberi harapan kepada seseorang, setelah ia menerima dan mulai menyayangi kita, hendaklah kita menjaga hatinya. Janganlah sesekali kita meninggalkannya begitu saja tanpa alasan yang masuk akal. Karena dia akan terluka oleh kenangan harapan dari kita dan mungkin dia tidak dapat melupakan segalanya selama dia mengingat kita.

Jikalau kita telah memiliki sepiring nasi yang baik untuk diri kita, mengenyangkan dan berkhasiat. Mengapa kita lengah dengan mencoba mencari makanan lain yang tampak lebih enak? Terlalu ingin mengejar kelezatan. Kelak, nasi itu akan basi dan kita tidak bisa memakannya lagi. Kita akan menyesal.

Begitu juga…
Jikalau kita telah bertemu dengan seseorang yang akan membawa kebaikan kepada diri kita, shalih atau shalihah. Mengapa kita lengah dengan mencoba membandingkannya dengan yang lain? Terlalu mengejar kesempurnaan. Kelak, kita akan merasa kehilangan apabila dia telah dipilih dan menjadi milik orang lain. Kita juga yang akan menyesal.



Menurut Hamka, “Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan penghargaan, menguatkan hati dalam perjuangan, menempuh onak dan duri penghidupan.”


Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ada persoalan besar yang harus diperhatikan oleh orang yang cerdas, yaitu bahwa puncak kesempurnaan, kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan yang ada dalam hati dan ruh tergantung pada dua hal. Pertama, karena kesempurnaan dan keindahan sesuatu yang dicintai, dalam hal ini hanya ada Allah, karenanya hanya Allah yang paling utama dicintai. Kedua, puncak kesempurnaan cinta itu sendiri, artinya derajat cinta itu yang mencapai puncak kesempurnaan dan kesungguhan. (dalam kitab al-Jawabul Kafi Liman Saala’ Anid Dawaaisy-syafi, edisi terjemah. hlm. 255)

Lebih lanjut Ibnu Qayyim menjelaskan, “Semua orang yang berakal sehat menyadari bahwa kenikmatan dan kelezatan yang diperoleh dari sesuatu yang dicintai, bergantung kepada kekuatan dorongan cintanya. Jika dorongan cintanya sangat kuat, kenikmatan yang diperoleh ketika mendapatkan yang dicintainya tersebut lebih sempurna.”

Mungkin kayak kita lagi haus nih, udah gitu di siang hari dengan terik matahari yang menyengat, maka kita akan semakin haus dan semakin ingin mencari air untuk memenuhi rasa haus kita. Nah, begitu dapetin air, maka nikmatnya bener-bener terasa. Tanya kenapa? (Yee.. jadi malah ngikutin iklan?)

Sahabat,kita sering mendengar bahwa jatuh cinta dan akhirnya mencintai orang yang kita cintai adalah sebagai anugerah terindah. Mungkin ada benarnya juga. Meski menurut saya itu terlalu didramatisir. Sebab, urusan cinta ini sangat kompleks, sobat. Tidak seperti hitungan matematika yang serba pasti. Tapi yang jelas dan yang paling utama, cinta bagi kita sebagai Muslim, harus sesuai sudut pandang Islam. Bukan yang lain.

Setiap perbuatan yang kita lakuin tuh pasti sesuai dengan cara pandang kita terhadap perbuatan tersebut. Lebih luas lagi cara pandang kita tentang hidup. Kalo kita memandang hidup tuh sekadar tumbuh, berkembang, lalu sampai titik tertentu mati (dan nggak ada kehidupan akhirat), maka perbuatan kita pun bakalan ngikutin apa yang kita pahami tentang kehidupan tersebut. Kita bisa bebas berbuat apa saja sesuai keinginan kita, karena kita merasa bahwa hidup cuma di dunia. Kehidupan setelah dunia kita anggap nggak ada. Artinya, kita jadi nggak kenal ada istilah pahala dan dosa.

Sebaliknya, bagi kita yang meyakini bahwa kita berasal dari Allah Swt. yang menciptakan kita semua, maka hidup di dunia juga adalah untuk ibadah kepadaNya, dan setelah kematian kita akan hidup di alam akhirat sesuai dengan amalan yang kita lakukan di dunia. Kalo banyak amal baik yang kita lakukan, insya Allah balasannya pahala dan di tempatkan di surga. Sebaliknya, kalo lebih banyak atau selama hidup kita maksiat dan nggak sempat bertobat, jelas dosa dan kita ditempatkan di akhirat di tempat yang buruk, yakni neraka. Naudzubillahi min dzalik.

Nah, dengan sudut pandang terhadap kehidupan yang benar, maka ketika berbuat apapun kita akan menyesuaikan dengan cara pandang kita tentang kehidupan yang benar itu. Termasuk ketika kita jatuh cinta. Jangan mentang-mentang jatuh cinta, lalu mengekspresikan cinta seenak hawa nafsu kita. Nggak dong, Brur. Nggak asal seneng ngeliat enak dipandang mata lalu main tubruk. Nggak banget. Tapi intinya sih, kita bakalan berpikir gimana seharusnya menurut aturan Islam. Bukan berpikir sebagaimana adanya kehidupan yang saat ini dilakoni. Tolong dicatet ye.

Ini penting dan perlu. Sebab, kalo yang berpikirnya “sebagaimana adanya kehidupan”, ya akan berpikir bebas nilai. Misalnya ketika manusia itu dianggap berhak melakukan apa saja dalam kehidupan yagn ada sekarang, yakni Kapitalisme-Sekularisme, maka tentu akan berbuat apa saja sesukanya (berzina, minum khamr, konsumsi narkoba, judi, pacaran dsb). Karena merasa mereka berhak ngelakuin hal tersebut. Nggak terikat aturan yang benar. Bahaya besar, Sob!

Sementara yang berpikirnya “sebagaimana seharusnya”, maka ia akan nyocokkin dengan aturan yang benar. Karena menganggap kehidupan yang ada ini harus sesuai aturan yang benar, gitu lho. Dan Islamlah yang benar. Bukan yang lain.

Itu sebabnya, ketika jatuh cinta pun kita harus tetap iffah alias menjaga kehormatan dan kesucian diri. Ibnu Abbas berkata bahwa orang yang jatuh cinta tidak akan masuk surga kecuali ia bersabar dan bersikap iffah karena Allah dan menyimpan cintanya karena Allah. Dan, ini tidak akan terjadi kecuali bila ia mampu menahan perasaannya kepada ma’syuq-nya (kepada orang yang dicintainya), mengutamakan cinta kepada Allah, takut kepadaNya, dan ridha denganNya. Orang seperti ini yang paling berhak mendapat derajat yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam al-Quran:

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (QS an-Naazi’aat [79]: 40-41)

Kita boleh dan wajar-wajar aja untuk jatuh cinta. Tapi, tetap harus menjaga kehormatan dan kesucian diri. Yakni dengan cara tetap menjadikan Allah dan RasulNya sebagai pemandu hidup kita. Kita melakukan perbuatan atas dasar petunjuk dari Allah lewat al-Quran dan petunjuk dari Rasulullah saw. berupa as-Sunnah. Inilah pedoman hidup kita. Oke?
(Buletin Gaul Islam)

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About Me

Foto saya
Ketika huruf bisa tersusun menjadi kata, ketika kata dapat tertautkan menjadi kalimat, dan ketika kalimat berhasil terangkai menjadi tulisan yang inspiratif. Ketika itulah akan terasakan suatu kebahagiaan yang luar biasa.. MAWAR itu MERAH karena BERANI, MAWAR itu BERDURI untuk melindungi dirinya... Jadilah MAWAR KEHIDUPAN!!!

Search This Blog

Ahlan wa Sahlan to My ZOne


Click here for Myspace Layouts

About this blog

Lewat hentakan jari jemari ini, sebuah tulisan kan mengalir Indah,yang akan mampu memberikan setitik pencerahan untuk umat




MUHASABAH

ISLAM akan segera MENANG tanpa menunggu siapapun, tetapi ALLAH akan memilih diantara HambaNYA yang memiliki kemauan untuk menolong agamaNYA.



Apakah "Kita" termasuk didalam orang orang yang terpilih tersebut??



Keep FighT!!




"Pengingat waKtu"

CuAp2..TinggaLkan PeSan

Bijak

BENDERA UMAT ISLAM

HAK CIPTA HANYA MILIK ALLAH. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

aLL about "diNie"

Foto saya
Ketika huruf bisa tersusun menjadi kata, ketika kata dapat tertautkan menjadi kalimat, dan ketika kalimat berhasil terangkai menjadi tulisan yang inspiratif. Ketika itulah akan terasakan suatu kebahagiaan yang luar biasa.. MAWAR itu MERAH karena BERANI, MAWAR itu BERDURI untuk melindungi dirinya... Jadilah MAWAR KEHIDUPAN!!!